Tradisi Tahunan Pasca Lebaran, Halal Bihalal Selalu Punya Makna Tersendiri yang Mendalam

Tradisi Tahunan Pasca Lebaran, Halal Bihalal Selalu Punya Makna Tersendiri yang Mendalam
Tradisi Tahunan Pasca Lebaran, Halal Bihalal Selalu Punya Makna Tersendiri yang Mendalam. (IST.CANVA)
0 Komentar

Di situlah letak rasa manusiawinya, tidak semua pertemuan berjalan dramatis. Tidak semua maaf diucapkan dengan air mata. Tapi ada kehangatan yang muncul dari kesederhanaan itu, dari kehadiran fisik, dari tatap muka dan dari hal-hal yang terasa semakin jarang di era serba digital.

Di tengah kebiasaan chat, DM, dan pesan-pesan singkat, halal bihalal menghadirkan sesuatu yang berbeda, tradisi yang membawa orang kembali ke interaksi nyata. Kembali ke momen di mana ekspresi wajah, nada suara, dan gestur kecil punya peran besar. Sesuatu yang nggak bisa hanya ditebak dari layar.

Dan mungkin, tanpa disadari, itulah yang membuat tradisi ini tetap hidup. Halal bihalal bukan cuma soal formalitas maaf-maafan. Ia adalah ruang untuk menghangatkan kembali koneksi, mempererat ikatan persaudaraan. Untuk menyambung kembali hubungan yang sempat renggang. Untuk sekadar hadir dan diingatkan bahwa hubungan sosial bukan sesuatu yang otomatis berjalan dengan sendirinya.

Baca Juga:Bingung Sore Ini Mau Ke Mana? Ini Spot Ngabuburit Paling Catchy di Bandung Biar Nggak Cuma Bengong di KosanRekomendasi Spot Ngabuburit Paling Seru di Sekitar Sumedang Kota Biar Puasa Tetap Produktif

Setiap Lebaran datang, setiap halal bihalal terjadi. Namun rasanya jarang benar-benar sama. Selalu ada cerita baru, perasaan baru, atau sudut pandang baru yang ikut terbawa. Karena yang dirayakan bukan sekadar tradisi, melainkan pertemuan itu sendiri.

Halal bihalal mungkin memang terlihat sederhana. Tapi di balik salaman, pelukan, dan senyuman, ada hal yang lebih dalam lagi, kebutuhan manusia untuk saling terhubung, saling dimengerti, dan diterima kembali di tengah dunia yang terus berubah.

0 Komentar