Istighosah di Bulan Ramadan, Refleksi Diri dan Mengisi Ruang-ruanng Kosong untuk Memohon Ampunan

Istighosah di Bulan Ramadan, Refleksi Diri dan Mengisi Ruang-ruanng Kosong untuk Memohon Ampunan
Istighosah di Bulan Ramadan, Refleksi Diri dan Mengisi Ruang-ruanng Kosong untuk Memohon Ampunan. (IST.CANVA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Di balik rutinitas sahur, berbuka, dan tarawih, ada banyak momen spiritual yang terasa begitu kuat di bulan suci Ramadan ini. Salah satunya yang paling akrab dengan masyarakat Indonesia adalah istighosah. Sebuah tradisi doa bersama yang biasa digelar secara khusyuk dan khidmat.

Bagi sebagian orang, istilah istighosah mungkin terdengar terlalu identik dengan kegiatan keagamaan di lingkungan pesantren dan majelis ta’lim. Padahal, praktik istighosah pada dasarnya adalah doa bersama yang dipanjatkan untuk memohon pertolongan kepada Allah, baik dalam menghadapi suatu kesulitan, mencari ketenangan batin, maupun mengharapkan keberkahan.

Istighosah umumnya dilakukan secara berjamaah. Baik di masjid, mushola, ataupun di sekolah saat melaksanakan pesantren kilat. Biasanya diisi dengan rangkaian dzikir, pembacaan doa-doa, dan permohonan bersama. Suasananya memberikan sebuah ketenangan yang jauh dari kesan riuh, justru ada rasa hening yang bikin orang lebih mudah merenung.

Baca Juga:Truk Muatan Ayam Terguling Melintang, Ayam Berserakan dan Arus Lalu Lintas di Tegar Beriman Tersendat

Di banyak tempat, istighosah sering digelar untuk tujuan tertentu. Misalnya menjelang ujian di sekolah, menghadapi peristiwa penting, atau sebagai bentuk ikhtiar batin ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit. Ramadan menjadi waktu yang dianggap tepat untuk melakukan istighosah karena diyakini sebagai bulan yang penuh ampunan.

Kalau diperhatikan, istighosah bukan cuma soal doa. Terbentuk sebuah dimensi sosial, orang-orang yang duduk bersama, menundukkan kepala, dan melafalkan dzikir dalam secara bersamaan. Tanpa sadar, muncul rasa kebersamaan yang jarang terasa dalam aktivitas sosial sehari-hari. Semua larut dalam suasana yang sama, tanpa sekat status ataupun latar belakang.

Bagi anak-anak muda, pengalaman mengikuti istighosah mungkin sering kali memberi kesan yang agak asing, namun di tengah dunia yang serba cepat, penuh distraksi, dan nyaris tak pernah benar-benar sunyi, momen seperti ini terasa kontras jika dicoba. Sesekali duduk diam, mendengar lantunan doa, dan merasakan suasana khusyuk bisa jadi pengalaman yang reflektif.

Di tengah kehidupan anak muda sekarang yang serba cepat, serba digital, dan nyaris tak pernah lepas dari layar, kegiatan spiritual seperti istighosah kadang terasa jauh dari keseharian. Bukan karena sudah tak relevan lagi, tapi sering kali kalah oleh distraksi, kesibukan sehari-hari, atau bahkan karena rasa malas. Nongkrong, scrolling sampai berjam-jam, atau tenggelam mengikuti trend dunia maya jadi hal yang lebih akrab dibanding duduk tenang dalam suasana doa bersama.

0 Komentar