Padahal, justru di era yang penuh tekanan, overthinking, dan kelelahan mental seperti sekarang, ruang-ruang hening dan reflektif semacam ini bisa punya makna yang berbeda. Istighosah dan kegiatan serupa bukan soal terlihat religius, tapi tentang memberi jeda, menenangkan pikiran, dan merasakan kembali koneksi yang sering kali tanpa sadar makin renggang.
Secara makna, istighosah juga mengingatkan pada satu hal yang paling mendasar, bahwa manusia punya keterbatasan. Ada situasi relate dengan kata-kata “usaha tanpa doa itu sombong,” di mana usaha saja tidak cukup, dan doa mengambil peran penting. Tradisi ini seolah menjadi pengingat bahwa dalam kondisi apa pun, kita harus selalu memberi ruang untuk memohon pertolongan dan ketenangan kepada Allah SWT.
Meski identik dengan kegiatan religius, istighosah bukan sesuatu yang eksklusif. Siapa pun bisa terlibat, tidak ada tuntutan rumit, tidak ada standar khusus. Esensi istighosah justru terletak pada kebersamaan, ketulusan, dan niat untuk lebih mendekatkan diri.
Ramadan memang selalu menghadirkan lebih dari sekadar perubahan pola makan dan jam tidur. Ada pengalaman batin, ada momen kebersamaan, dan ada tradisi-tradisi yang membuat bulan ini terasa selalu punya karakter tersendiri. Istighosah menjadi salah satu bagian dari warna tersebut, sederhana, tenang, penuh makna yang mendalam.
