Menjalani Ramadhan dengan Kursi Kosong di Meja Makan, Saat Ibu Tak Lagi Menyambut Azan Magrib

Menjalani Ramadhan dengan Kursi Kosong di Meja Makan, Saat Ibu Tak Lagi Menyambut Azan Magrib
Menjalani Ramadhan dengan Kursi Kosong di Meja Makan, Saat Ibu Tak Lagi Menyambut Azan Magrib. (IST. CANVA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Ramadhan selalu identik dengan kebersamaan. Ada kehangatan yang terasa berbeda ketika bukan suci Ramadhan tiba. Rumah yang biasanya berjalan dalam ritme biasa, mendadak menjadi lebih hidup.

Dapur lebih sering mengepul, ruang makan lebih ramai, dan menjelang maghrib seluruh anggota berkumpul menanti adzan berkumandang. Namun, suasana itu berubah ketika sosok ibu tak lagi hadir di tengah-tengah keluarga.

Kursi yang selalu ibu tempati kini kosong. Tak ada lagi senyum lembut yang menyambut ketika satu per satu anggota keluarga duduk di meja makan. Ramadhan pun terasa berbeda, lebih sunyi, lebih hening, dan kadang ada sesak yang sulit dijelaskan.

Baca Juga:"Sehidup Semaling" di Tangan Massa: Pasutri Maling Motor Kompak Babak BelurTabrakan Beruntun di Buah Batu Dini Hari, Diduga Sopir Truk Box Alami Microsleep

Ibu adalah jantung dari suasana Ramadhan di rumah. Sejak pagi, ibu sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk berbuka dan sahur. Ibu yang paling tahu menu kusakaan anak-anaknya, ibu yang selalu telaten memastikan semuanya cukup dan tak ada yang terlewat.

Bahkan dalam kondisi lelah sekalipun, ibu tetep berdiri di dapur, masakan dengan penuh keikhlasan, cinta dan kasih.

Kini, saat adzan maghrib hampir tiba, tak ada lagi suara lembutnya yang mengingatkan sebentar lagi berbuka dan menyiapkan hidangan untuk berbuka. Tidak ada lagi tangan yang sigap membagikan kurma ke setiap piring. Yang terdengar sekarang hanya sendok yang piring yang beradu dalam kesunyian.

Sahur pun terasa berbeda. Dulu, ibu selalu jadi orang pertama yang terjaga. Ibu berjalan pelan membangunkan anak-anaknya, memastikan semua makan meski dengan mata yang masih terpejam.

Terkadang dengan satu suara panggilan saja tak cukup, ibu harus memanggil berulang kali, namun tak pernah sekalipun nada marah yang terucap dikeluarkan olehnya.

Kini, hanya ada alarm dari handphone yang menggantikannya. Tak ada lagi sentuhan lembut di bahu atau suara penuh perhatian yang membuat sahur terasa hangat.

Ramadhan tanpa ibu bukan cuma kehilangan sosok, tapi juga kehilangan suasana. Kehangatan yang dulu terasa alami kini harus diciptakan dengan usaha. Anggota keluarga yang belajar mengambil peran yang dulu dipegang ibu.

Baca Juga:Istighosah di Bulan Ramadan, Refleksi Diri dan Mengisi Ruang-ruanng Kosong untuk Memohon AmpunanTruk Muatan Ayam Terguling Melintang, Ayam Berserakan dan Arus Lalu Lintas di Tegar Beriman Tersendat

Ada yang mulai belajar masak, ada yang mencoba menata meja makan seperti biasa ibu lakukan. Walaupun rasa masakan tak pernah benar-benar sama, setidaknya usaha untuk menjaga tradisi tetap hidup.

0 Komentar