Menjalani Ramadhan dengan Kursi Kosong di Meja Makan, Saat Ibu Tak Lagi Menyambut Azan Magrib

Menjalani Ramadhan dengan Kursi Kosong di Meja Makan, Saat Ibu Tak Lagi Menyambut Azan Magrib
Menjalani Ramadhan dengan Kursi Kosong di Meja Makan, Saat Ibu Tak Lagi Menyambut Azan Magrib. (IST. CANVA)
0 Komentar

Di sela-sela kesibukan itu, kenangan sering datang tanpa permisi. Aroma kolak dari dapur tiba-tiba mengingatkan pada resep lama ibu. Lantunan ayat suci sehabis tarawih membawa ingatan pada kebiasaannya membaca Al-Qur’an di sudut ruang keluarga.

Kenangan-kenangan kecil itu justru terasa begitu besar di bulan yang penuh makna ini.

Ada kalanya air mata jatuh saat doa dipanjatkan. Nama ibu selalu disebut lebih lama, lebih dalam. Di setiap sujud, terucap doa harapan agar Allah melapangkan kuburnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik. Ramadhan selalu jadi ruang besar untuk mengirimkan doa yang tak pernah putus.

Baca Juga:Definisi Sehidup Semaling! Gagal Curi Motor, Pasutri di Majalengka Babak Belur Dihakimi MassaTabrakan Beruntun di Buah Batu Dini Hari, Diduga Sopir Truk Box Alami Microsleep

Meski kehilangan terasa nyata, Ramadhan juga menghadirkan perjalanan tentang keikhlasan. Hidup berjalan sebagaimana takdirnya. Pertemuan dan perpisahan juga bagian dari ketentuan yang tak bisa dihindari.

Ibu mungkin sudah berpulang, tapi nilai-nilai yang ibu tanamkan tetap hidup dalam keseharian.

Kesederhanaan, ketulusan berbagi, dan semangat bersedekah selalu ibu contohkan menjadi warisan paling berharga.

Kursi kosong di meja makan memang tak bisa di isi oleh siapapun. Namun kekosongan itu perlahan berubah menjadi pengingat untuk lebih menghargai waktu dan kebersamaan. Ramadhan mengajarkan bahwa cinta tak berhenti hanya karna jarak dan kematian.

Ibu tetap hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam setiap langkah yang berusaha menjadi lebih baik.

Menjalani Ramadhan tanpa ibu memang bukan hal yang mudah. Ada rindu yang tak bisa dipeluk, ada suara yang tak lagi didengar. Tapi dibalik kesedikan itu, tersimpan rasa syukur pernah memiliki sosok ibu yang begitu berarti.

Kenangan bersamanya menjadi cahaya kecil yang menerangi hari-hari di bulan suci.

Baca Juga:Istighosah di Bulan Ramadan, Refleksi Diri dan Mengisi Ruang-ruanng Kosong untuk Memohon AmpunanTruk Muatan Ayam Terguling Melintang, Ayam Berserakan dan Arus Lalu Lintas di Tegar Beriman Tersendat

Dan setiap adzan maghrib berkumandang, meski kursi itu tetap kosong, hati ini percaya jika doa-doa yang terucap akan tersampaikan kepadanya.

Suatu hari nanti, di waktu yang telah Allah tentukan, akan ada pertemuan kembali yang jauh lebih indah.

Sampai saat itu tiba, Ramadham akan selalu menjadi bulan buat mengenang, mendoakan, dan menjaga cinta seorang ibu tetap hidup di dalam hati.

0 Komentar