Kuliner Peranakan yang Familiar Disajikan Selama Bulan Ramadhan

Kuliner Peranakan yang Familiar Disajikan Selama Bulan Ramadhan
Kuliner Peranakan yang Familiar Disajikan Selama Bulan Ramadhan. (Pexels)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Kuliner peranakan Tionghoa atau perpaduan kuliner Nusantara dan Tionghoa sangat menybar sehingga bisakita temukan di hidangan sehari-hari, bahkan ketika bulan Ramadhan. Warisan akulturasi ini berawal pada abad 15 sebagai simbol dari harmoni budaya, yang juga cocok dikonsumsi ketika buka puasa karena cita rasa gurih-manis yang cocok di lidah setelah seharian berpuasa.Kuliner peranakan Tionghoa berawal dari migrasi masyarakat Tionghoa sejak Dinasti Ming (abad 14-15) yang membawa ilmu berupa teknik masak deep-fry, tauco, dan mi ke kuliner Nusantara. Kemudian beradaptasi dengan menyesuaikann rempah lokal seperti santan dan serai, dan lahirlah masakan peranakan, memberi campuran cita rasa gurih asin dari Tiongkok dan manis pedas khas Indonesia. Mengutip dari Republika, akulturasi kuliner ini kemudian dijual dengan harga murah di pinggir jalan. Hasilnya, beberapa hidangan cepat dan murah dijual seperti: cakue, dimsum, lumpia, dan kue terang bulan (martabak manis).

  1. Wedang Ronde: Hidangan asal Tiongkok ini aslinya bernama tang yuan (bola ketan Yuan Xiao), yang kemudian diadaptasi Nusantara menjadi wedang ronde dengan kolang-kaling, roti tawar, jahe, dan kacang. Ronde (bola ketan) ini juga menjadi simbol keluarga yang utuh, hangatnya jahe cocok untuk berbuka puasa di udara sejuk dan dingin.
  2. Cakue: Hidangan ini berasal dari adonan tepung yang digoreng dalam bentuk panjang, dalam bahasa Mandarin disebut sebagai youtiao. Hidangan ini diakulturasi di Indoensia dengan menambahkan saus, menambah cita rasa gurih.
  3. Lumpia: Salah satu yang paling terkenal yaitu Lumpia Semarang, berisi rebung (bambu muda), udang, ayam, dan saus tauco menambah rasa pedas dan manis.
  4. Dimsum & Siomay: Merupakan hidangan adaptasi menjadi siomay Betawi, berisi ikan tenggiri, ditambah tahu, tempe, kentang dan disiram bumbu kacang. Berasal dari Guangdong, yang awalnya bernama dian xin yang berarti sentuhan hati. Dimsum juga identik dengan perayaan imlek, melambangkan simbol kemakmuran karena isinya melimpah.
  5. Martabak dan Kue Terang Bulan (Martabak Manis): Berasal dari adaptasi pedagang Tiongkok terutama darah selatan, berupa adonan telur yang diberi daun bawang dan daging cincang yang digoreng hingga kecoklatan berbentuk persegi panjang, lalu dipotong sesuai selera untuk martabak telur. Sedangkan kue terang bulan menggunakan adonan yang mirip dengan pancake, lalu diberi topping klasik seperti kacang, keju, atau cokelat.
0 Komentar