JATINANGOR EKSPRES – Wanita yang sedang menstruasi dinilai mengalami perubahan emosi menjadi lebih sensitif. Pernyataan bahwa wanita menjadi lebih sensitif saat menstruasi merupakan pernyataan yang benar. Perubahan tersebut adalah hal yang wajar karena berhubungan dengan kerja neurotransmitter di otak.
Saat menstruasi, wanita sebenarnya mengalami penurunan kadar estrogen. Penurunan ini sangat berpengaruh pada serotonin dan dopamin. Dua bagian otak tersebut berguna untuk mengatur suasana hati, sehingga perempuan bisa merasa lebih sensitif atau lebih emosional.
Pada awal menstruasi, wanita sering menanggapi hal yang berada di sekelilingnya dengan respons yang lebih kuat dan peka. Respons ini sering kali dipandang negatif oleh orang lain, padahal apa yang dirasakan wanita merupakan respons fisik dan psikologis yang normal. Saat masa menstruasi mereda, wanita akan kembali mampu mengatur suasana hatinya karena kadar estrogen kembali meningkat, sehingga perempuan merasa lebih stabil secara emosional.
Baca Juga:Tepat Sasaran! Begini Cara Mudah Cek Status Penerima Bansos Kemensos Melalui AplikasiMomen "Nyesek"! Selebgram Azizah Salsha Alami Penolakan Saat Ingin Foto Bareng Harry Styles
Berikut beberapa cara menghadapi wanita yang sedang mengalami PMS (Pre-Menstrual Syndrome):
1. Harus Sabar
Meredakan ego menjadi cara utama untuk menghadapi seorang perempuan yang sedang menstruasi. Hal ini dikarenakan emosi yang meningkat pada perempuan bukanlah kemauannya, melainkan pengaruh dari aktivitas kimiawi di dalam otak.
2. Dengarkan Dia
Mendengarkan curahan hati seorang perempuan menjadi solusi terbaik. Terkadang, Anda tidak perlu memberikan banyak respons; cukup dengarkan dengan saksama dan berikan dukungan kecil yang menenangkan.
3. Biarkan Beristirahat
Memberikan waktu luang pada perempuan tanpa tuntutan yang berlebih menjadi hal yang sangat dihargai. Dengan beristirahat, perempuan tidak perlu mengeluarkan energi berlebih untuk aktivitas sosial yang melelahkan atau perdebatan yang tidak perlu.
Memahami perubahan emosi wanita saat menstruasi bukan hanya soal toleransi, melainkan tentang membangun empati yang berdasar pada ilmu pengetahuan. Perubahan suasana hati ini bukanlah sebuah alasan yang dibuat-buat, melainkan proses biologis yang nyata dan menantang bagi setiap wanita.
