Kenapa Produk Skincare Favoritmu Mulai Dijual di Website Brand?

Potret serangkaian skincare disimpan didalam troli belanja dengan paper bag
Beberapa brand skincare lokal kini mulai angkat kaki dari e-commerce dan mulai membuka lapak di website sendiri. (Pexels)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Fenomena brand skincare mulai membangun website sendiri bukan lagi sekadar tren, tapi strategi bertahan di tengah beban biaya admin e-commerce yang semakin mencekik. Di Indonesia, banyak merek kecantikan lokal kini memutuskan “berumah” di situs web mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan pada marketplace, salah satunya karena struktur biaya platform yang makin kompleks dan tinggi bagi seller dan akhirnya ikut menekan kantong pembeli.

Kenapa Biaya Admin e-Commerce Mencekik Seller Skincare?

Marketplace besar seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada menerapkan kombinasi komisi (2–10% dari nilai transaksi) plus biaya layanan sekitar Rp1.250 per pesanan, yang belum termasuk ongkos promosi, program bebas ongkir, dan pajak. Untuk brand skincare yang biasanya menawarkan harga kompetitif dan margin kotor yang relatif tipis, potongan itu bisa menggerus laba hingga puluhan persen, apalagi jika brand ikut program mall, Star Seller, atau program promosi berbayar.

Selain itu, sejumlah platform mulai memperkenalkan biaya tambahan seperti biaya retur dan layanan premium, sehingga kalkulasi biaya di marketplace bukan lagi hanya sekadar potongan komisi, tetapi campuran biaya tetap, per transaksi, dan biaya promosi. Banyak pelaku UMKM di sektor kecantikan mengeluhkan bahwa tingginya biaya admin ini membuat mereka harus menaikkan harga produk atau rela menekan margin hingga titik hampir merugi.

Baca Juga:Avatar The Last Airbender Live Action Season 2: Siap Suguhkan Toph, King Bumi hingga Politik Earth KingdomLaufey Sukses Guncang Jakarta, Padukan Jazz Klasik Bertemu Pop Modern dalam Pertunjukan Intim

Dampaknya Ke Pembeli: Harga dan Pengalaman Belanja

Biaya mahal di sisi seller pada akhirnya sering dialihkan ke buyer dalam bentuk harga yang lebih tinggi, paket diskon lebih ketat, atau opsi pengiriman yang lebih terbatas. Mengutip dari Kata Data.co, pada kasus ini brand skincare terpaksa mengurangi pemberian sampel, bundling gratis ongkir, atau memberi promo lebih pelit karena sebagian besar diskon dan cashback sudah dibayar ke platform sebagai bagian dari skema biaya dan program.

Di sisi lain, konsumen juga mulai mengeluhkan pengalaman belanja yang terlalu berisik di marketplace, seperti banyak iklan, rekomendasi produk yang tumpang-tindih, dan minimnya personalisasi detail produk. Website brand sendiri memungkinkan penyajian informasi yang lebih terstruktur berdasarkan ingredient, manfaat, cara pakai, sampai testimoni autentik, sehingga pembeli bisa memilih produk dengan lebih tenang dan percaya tanpa harus “ditembak” oleh iklan kompetitor.

0 Komentar