Dalam catatan sejarah yang dikutip Sumedang Tandang, anggaran pembangunan disebut mencapai lebih dari Rp1,4 miliar.
Kehadiran Sabusu membuka kesempatan bagi berbagai kegiatan seni dan kebudayaan. Tempat ini menjadi ruang pertemuan antara seniman, pelajar, mahasiswa, budayawan, dan masyarakat.
Berbagai kegiatan digelar, mulai dari pelatihan tari klasik, gamelan, jaipong, perlombaan kesenian, hingga rampak sekar. Kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pertunjukan. Sabusu juga menjadi tempat bagi generasi muda untuk mengenal seni tradisional secara langsung.
Baca Juga:Tips Berburu Kuliner Hemat di Jatinangor saat Tanggal Tua, Mahasiswa Wajib Tahu!Kuliner Murah di Jatinangor, 5 Tempat Makan Favorit untuk Mahasiswa saat Tanggal Tua
Melalui latihan dan pertemuan antargenerasi, pengetahuan tentang gerak tari, musik tradisional, dan nilai budaya dapat diteruskan kepada anak-anak yang kelak menjadi penerusnya.
Di tengah kehidupan Jatinangor yang semakin lekat dengan aktivitas kampus, Sabusu menghadirkan ruang bagi identitas budaya lokal untuk tetap mendapat tempat.
Ketika Aktivitas Kesenian Mulai Meredup
Perjalanan Sabusu kemudian menghadapi tantangan dalam pengelolaannya.
Dalam narasi sejarah yang dimuat Sumedang Tandang, perubahan pola pengelolaan disebut turut memengaruhi pemanfaatan saung. Ruang yang sebelumnya menjadi tempat kegiatan kesenian menghadapi pergeseran fungsi, termasuk pemanfaatan untuk kepentingan komersial.
Situasi tersebut menjadi persoalan bagi sebagian pelaku seni yang membutuhkan ruang berlatih dan berkegiatan secara berkelanjutan.
Upaya penataan kembali pengelolaan pun dilakukan. Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui dinas yang menangani urusan kebudayaan disebut mengambil langkah untuk mengembalikan fungsi Sabusu sebagai ruang aktivitas seni.
Proses peralihan pengelolaan tidak berlangsung sederhana. Persoalan kerja sama yang masih berjalan menjadi salah satu hambatan sebelum tempat tersebut dapat kembali dimanfaatkan.
Baca Juga:Robinhood, Sapi 1,4 Ton dari Sumedang yang Juara NasionalPPD 2026: Sumedang Juara di Jabar, Peringkat Keempat Nasional
Sabusu Kemudian Sempat Ditutup Sementara.
Ketika aktivitas berhenti, yang hilang bukan hanya keramaian sebuah bangunan. Kesempatan untuk berlatih, bertemu, dan meneruskan pengetahuan kesenian juga ikut berkurang.
Bagi komunitas seni, ruang latihan merupakan bagian penting dari proses pewarisan budaya. Kesenian tidak dapat bertahan hanya melalui dokumentasi atau pertunjukan sesekali. Ia membutuhkan latihan rutin, keterlibatan generasi muda, dan kesempatan untuk tampil di hadapan masyarakat.
Sabusu Kembali Menjadi Ruang Kesenian
Setelah mengalami perubahan pengelolaan, Sabusu kembali diarahkan untuk menjalankan fungsi kebudayaannya.
Berbagai kesenian tradisional seperti reak, pencak silat, sisingaan, dan karinding menjadi bagian dari gambaran aktivitas seni yang ingin terus dirawat di tempat tersebut.
