Sabusu Jatinangor, Rumah Budaya Sumedang yang Pernah Sunyi dan Kembali Hidup

Saung Budaya Sumedang
Ilustrasi: Saung Budaya Sumedang.(Dok fajarnusantara)
0 Komentar

JATINANGOR – Di tepi Jalan Raya Jatinangor, tak jauh dari kampus Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), berdiri sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan panjang kesenian tradisional Sumedang. Namanya Saung Budaya Sumedang, atau lebih dikenal dengan sebutan Sabusu.

Bangunan dengan nuansa tradisional itu bukan sekadar tempat berkumpul. Sabusu pernah menjadi ruang bagi seniman, budayawan, dan generasi muda untuk belajar, berlatih, serta merawat kesenian yang diwariskan leluhur.

Di tempat inilah gamelan, tari klasik Sunda, jaipong, dan karinding menjadi bagian dari kehidupan berkesenian masyarakat. Anak-anak sanggar belajar mengenal gerak tari, sementara para pelaku seni berupaya menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Baca Juga:Tips Berburu Kuliner Hemat di Jatinangor saat Tanggal Tua, Mahasiswa Wajib Tahu!Kuliner Murah di Jatinangor, 5 Tempat Makan Favorit untuk Mahasiswa saat Tanggal Tua

Namun, perjalanan Sabusu tidak selalu ramai. Ruang yang dibangun untuk menjadi rumah kebudayaan itu pernah menghadapi persoalan pengelolaan hingga aktivitas kesenian di dalamnya meredup.

Kisah Sabusu menjadi pengingat bahwa menjaga kebudayaan tidak cukup hanya dengan membangun tempat. Dibutuhkan ruang yang hidup, pengelolaan yang tepat, serta keterlibatan masyarakat untuk memastikan tradisi tetap diwariskan.

Berawal dari Kegelisahan Seniman Jatinangor

Mengutip informasi dari laman Sumedang Tandang, gagasan pendirian Saung Budaya Sumedang berangkat dari kebutuhan para seniman di kawasan Jatinangor pada akhir 1990-an.

Saat itu, aktivitas kesenian tumbuh melalui berbagai komunitas dan sanggar. Pertunjukan digelar, anak-anak belajar seni tradisional, dan para pegiat budaya terus berusaha mempertahankan kesenian Sunda.

Namun, mereka belum memiliki ruang bersama yang memadai untuk berkarya, berdiskusi, maupun menyimpan perlengkapan pertunjukan.

Supriatna, sesepuh Sanggar Seni Motekar, termasuk sosok yang menyuarakan kebutuhan tersebut. Bersama para seniman dan sejumlah kepala desa, ia memperjuangkan hadirnya ruang kebudayaan yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas seni.

Bagi para seniman, keberadaan saung bukan sekadar soal bangunan. Mereka membutuhkan tempat untuk mempertemukan pelaku seni, mendidik generasi muda, dan menjaga kesinambungan tradisi.

Upaya itu kemudian mengantarkan lahirnya Saung Budaya Sumedang pada 2000.

Baca Juga:Robinhood, Sapi 1,4 Ton dari Sumedang yang Juara NasionalPPD 2026: Sumedang Juara di Jabar, Peringkat Keempat Nasional

Sabusu Dibangun sebagai Ruang Ekspresi Budaya

Pembangunan Sabusu diprakarsai oleh Bupati Sumedang saat itu, Haji Misbach, dengan dukungan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Departemen Pariwisata.

0 Komentar