Air Mata di Bulan Puasa: Tanda Lemah atau Bukti Keimanan?

Air Mata di Bulan Puasa: Tanda Lemah atau Bukti Keimanan?
Air Mata di Bulan Puasa: Tanda Lemah atau Bukti Keimanan? (IST.CANVA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Puasa itu salah satu ibadah umat Islam yang punya banyak keutamaan.

Selama menjalankan ibadah puasa, seorang muslim diwajibkan menahan diri dari hal-hal dapat membatalkan puasa dari terbit fajar sampai matahari terbenam.

Tapi, ditengah kehidupan sehari-hari, Manusia tak lepas dari berbagai emosi, termasuk rasa sedih yang kadang bikin seseorang menangis.

Baca Juga:Di Balik Menahan Lapar dan Haus, Ini Manfaat Puasa bagi KesehatanMemahami Tradisi Halal Bihalal di Indonesia dan Maknanya dalam Menjaga Silaturahmi

Hal ini sering menimbulkan banyak pertanyaan, apakah menangis bisa membuat puasa menjadi makruh atau bahkan membatalkannya?

Secara umum, menangis itu adalah reaksi alami manusia terhadap berbagai perasaan seperti kesedihan, haru, bahagia, ataupun rasa takut kepada Allah.

Dalam konteks ibadah, menangis sering dianggap sebagai tanda kelembutan hati. Banyak kisah para Nabi yang menangis saat membaca Al-Qur’an atau saat mengingat kebesaran Allah.

Para ulama sepakat bahwa menangis bukan termasuk hal yang membatalkan puasa. Tidak ada dalil di dalam Al-Qur’an ataupun hadis yang mengatakan bahwa air mata yang keluar dari mata bisa membatalkan puasa.

Air mata bukanlah sesuatu yang masuk ke dalam tubuh lewat jalur makan dan minum, maka tidak mempengaruhi keabsahan puasa seseorang.

Selain itu, menangis juga tidak otomatis membuat puasa menjadi makruh. Makruh dalam hukum Islam berarti sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan karna tak dianjurkan, tapi jika dilakukan pun tak berdosa.

Dalam hal menangis, para ulama tidak memasukannya sebagai perbuatan makruh selama tak menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan adab puasa.

Baca Juga:Tunjangan Hari Raya Lebih Bervariatif! Ini Dia Beberapa Rekomendasi THR menarik Saat Lebaran!Rekomendasi 5 Tempat Piknik di Sumedang yang Bisa Dikunjungi Saat Libur Panjang Lebaran

Bahkan, dalam beberapa kondisi, menangis justru bisa jadi sesuatu yang bernilai ibadah.

Misalnya, seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, menyesali dosa, atau saat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Tangisan seperti ini sering disebut sebagai tangisan karena khusyuk atau karena keimanan. Di dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang menangis karena takut kepada Allah, termasuk golongan yang mendapatkan keutamaan besar di sisi-Nya.

Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya tangisan tidak mengurangi kesempurnaan puasa.

Contohnya, jika seseorang menangis dengan cara meratap secara berlebihan, menjerit, atau mengucapkan kata-kata yang gak pantas. Dalam Islam, meratap secara berlebihan (niyahah) memang tidak dianjurkan, baik saat berpuasa ataupun tidak.

0 Komentar