Risiko Kognitif Media Sosial: Mengatasi Brain-Rot di Kalangan Pelajar

Cara ampuh mengatasi brain rot.
Cara ampuh mengatasi brain rot. (Pexels)
0 Komentar

Dari sudut psikologis, bahasa seperti ini dapat memengaruhi identitas dan persepsi diri remaja, mereka mungkin mulai menormalisasi kurangnya ketahanan mental dan menganggap ketidakmampuan berkonsentrasi sebagai bagian dari gaya hidup kekinian, bukan masalah yang perlu diintervensi. Mengutip dari Kanal Psikologi UGM, penggunaan istilah tersebut juga bisa menjadi cara bagi remaja untuk mengakui bahwa layar dan konten digital memang memberi beban, sekaligus membuka peluang untuk diskusi tentang kesehatan mental dan keseimbangan digital.

Psikologi di Balik Kecanduan Konten Pendek

Konten video pendek dirancang untuk memicu respons dopamin cepat, mengingat setiap video memberi rasa kepuasan instan, lalu berhenti dan digantikan oleh stimulus baru, sehingga otak remaja terbiasa dengan ritme cepat-cepat dan sulit lagi menahan ketegangan untuk fokus lama. Paparan berulang-ulang pada potongan informasi singkat juga membuat otak kurang terlatih untuk memproses isi yang kompleks, menurunkan kemampuan berpikir analitis, dan meningkatkan risiko kecemasan serta perasaan mental fatigue pasca-scroll.

Di Indonesia, beberapa penelitian terkait pelajar menunjukkan bahwa brain rot dari konten media sosial berdampak pada penurunan kualitas intelektual, lemahnya literasi informasi, dan rendahnya kemampuan pengambilan keputusan yang sehat. Selain itu, pola konsumsi berlebihan ini sering beriringan dengan kurangnya aktivitas fisik, gangguan tidur, dan berkurangnya waktu untuk interaksi langsung dengan keluarga atau teman, sehingga berdampak lebih luas pada relasi sosial dan kesejahteraan psikologis remaja.

Baca Juga:Yogurt Homemade: Cara Mudah Menghindari 7 Kesalahan UmumTips Menyulap Balkon Atap Rumah Menjadi Rooftop Minimalis Hemat Biaya dengan Waterproofing yang Tepat

Menjaga Kesehatan Kognitif Di Era Digital

Mengenali fenomena brain rot bukan berarti anak muda harus berhenti total mengakses media sosial, melainkan perlu mengatur pola konsumsi konten secara lebih bijak. Beberapa strategi yang bisa diterapkan remaja dan orang tua antara lain: membatasi durasi harian untuk video pendek, mengatur batas waktu layar sebelum tidur, mengisi waktu dengan aktivitas lain seperti membaca, berolahraga, atau berinteraksi langsung, serta melatih kemampuan mindfulness untuk kembali ke kondisi fokus.

Dengan memahami dampak paparan konten durasi pendek dan peran bahasa slang seperti brain rot, remaja tidak hanya menjadi lebih sadar, tetapi juga berdaya untuk mengatur kembali hubungannya dengan dunia digital agar otak tetap tajam, kreatif, dan terjaga dari “rot” yang tidak perlu.

0 Komentar