JATINANGOR EKSPRES – Istilah “brain rot” mulai ramai dibicarakan di kalangan anak muda sebagai sindiran untuk kondisi mental yang lelah, sulit fokus, dan terus terdistorsi akibat konsumsi konten digital berlebihan, terutama lewat video pendek di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Meskipun bukan diagnosis medis resmi, istilah ini secara nyata menggambarkan penurunan kemampuan berpikir kritis, atensi yang memendek, dan rendahnya daya tahan untuk menyerap informasi yang lebih kompleks. Fenomena ini terasa sangat kuat di kalangan remaja dan Gen-Z yang setiap hari dikelilingi notifikasi notifikasi, autoplay, dan konten hiburan yang disajikan dalam durasi di bawah 60 detik.
Secara harfiah, “brain rot” berarti “otak yang membusuk”, namun dalam budaya internet ia lebih merujuk pada kondisi mental yang terdistraksi, lelah, dan sulit mempertahankan fokus setelah terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang cenderung dangkal, repetitif, dan minim beban kognitif. Kondisi ini sering dipicu oleh kebiasaan menonton video pendek (short-form video) secara beruntun, yang membanjiri otak dengan rangsangan visual dan audio instan, sehingga otak remaja terbiasa dengan dopamin cepat dan sulit lagi menikmati aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lama.
Dampak Pada Attention-Span
Dampak paling terlihat pada attention span, biasanya ditandai anak muda sering merasa cepat bosan, mudah teralihkan oleh bunyi notifikasi, dan sulit menuntaskan tugas belajar atau membaca tulisan yang lebih panjang. Penelitian terkait remaja dan pelajar menunjukkan bahwa brain rot dari konten media sosial dapat mengganggu proses belajar mendalam, menurunkan kontrol atensi internal, dan melemahkan kemampuan mengorganisasi waktu serta memprioritaskan aktivitas bernilai produktik.
Baca Juga:Yogurt Homemade: Cara Mudah Menghindari 7 Kesalahan UmumTips Menyulap Balkon Atap Rumah Menjadi Rooftop Minimalis Hemat Biaya dengan Waterproofing yang Tepat
Dampak Bahasa Slang “Brain Rot” Pada Remaja
Selain konsumsi konten, istilah brain rot juga menjadi bahasa slang yang sering diucapkan atau dijadikan candaan di kalangan remaja, misalnya “Hari ini otak saya benar-benar brain rot setelah addictive scroll TikTok”. Mengutip Alo Dokter, penggunaan istilah ini sebagai pelecehan diri (self-deprecating humour) yang bisa terasa ringan, tetapi dalam jangka panjang menguatkan narasi bahwa sudah wajar anak muda tidak fokus, tidak serius, dan tidak perlu berpikir terlalu dalam.
