Jembatan yang Menolak Dilupakan

Jembatan Cincin
BERSEJARAH: Peninggalan sejarah jembatan Cincin di Kecamatan Jatinangor. (Instagram: @nurrihsan)
0 Komentar

Di sekelilingnya, wajah kawasan telah berganti.

Perkebunan perlahan menghilang, digantikan gedung-gedung kampus, kawasan permukiman, hingga pusat aktivitas ekonomi. Jatinangor menjelma menjadi kota pendidikan. Di bawah bayang-bayang lengkungan beton itu kini lahir ribuan gagasan dari mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Namun sejarah tak pernah benar-benar berjalan sendiri.

Bersamanya ikut hidup cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sebagian warga percaya kawasan itu menyimpan kisah mistis. Konon, pembangunan jembatan pada masa kolonial memakan banyak korban akibat kerja paksa. Ditambah keberadaan makam-makam tua di sekitarnya, lahirlah berbagai cerita tentang sosok perempuan, aroma bunga yang tiba-tiba tercium, hingga suara tangisan yang muncul ketika senja turun atau malam Jumat tiba.

Cerita-cerita itu terus hidup, meski tak pernah benar-benar bisa dibuktikan.

Sebagian warga memilih memaknainya sebagai bagian dari folklore yang lahir dari sejarah panjang sebuah tempat. Kesunyian, cahaya yang redup, dan bangunan tua sering kali membuat imajinasi manusia bekerja lebih kuat daripada kenyataan.

Baca Juga:Membelah Peta, Menguji KesiapanPanggung Baru Bibit Futsal Sumedang

Apa pun kisah yang mengitarinya, Jembatan Cincin telah melampaui fungsinya sebagai infrastruktur.

Ia berubah menjadi penanda ingatan.

Di tengah pembangunan yang terus menghapus jejak lama, jembatan itu tetap bertahan sebagai pengingat bahwa sebuah kota bukan hanya dibangun oleh beton dan jalan raya, tetapi juga oleh sejarah yang memilih untuk tidak dilupakan.(win)

0 Komentar