Di bawah lengkungan beton berusia lebih dari seabad, Jatinangor menyimpan jejak kolonial, denyut perkebunan, dan cerita-cerita yang tak pernah benar-benar selesai. Jembatan Cincin bukan sekadar bangunan tua, melainkan penanda bahwa sejarah selalu menemukan cara untuk bertahan.
ERWIN MINTARA D. YASA, Kecamatan Jatinangor, Sumedang Ekspres
JATINANGOR tak pernah benar-benar sunyi. Kendaraan mengalir tanpa jeda. Mahasiswa silih berganti memenuhi jalan, dan kawasan pendidikan itu terus bergerak mengikuti ritme zaman. Namun di sudut Cikuda, waktu seperti memilih berjalan lebih lambat.
Di sana berdiri Jembatan Cincin.
Lumut perlahan merayap di permukaan beton. Warna abu-abu yang dulu tegas kini memudar. Usianya telah melampaui satu abad, tetapi tubuhnya tetap tegak, seolah enggan menyerah kepada waktu.
Baca Juga:Membelah Peta, Menguji KesiapanPanggung Baru Bibit Futsal Sumedang
Jembatan itu dibangun sekitar 1917 hingga 1918, ketika Jatinangor masih didominasi hamparan perkebunan karet milik kolonial Belanda. Kala itu, lengkungan-lengkungan beton bukan dibangun untuk pejalan kaki atau sepeda motor, melainkan menopang rel kereta api yang mengangkut hasil bumi menuju pusat perdagangan.
Asap lokomotif pernah memenuhi langit di atasnya. Gerbong-gerbong sarat muatan melintas setiap hari, membawa hasil perkebunan sekaligus menjadi saksi bisu sistem kerja paksa yang menorehkan luka bagi banyak penduduk pribumi.
Kini, rel itu telah lama hilang.
Yang tersisa hanyalah jalan sempit yang setiap hari dilintasi warga. Tak ada lagi peluit kereta yang memecah pagi. Derunya berganti suara sepeda motor, langkah kaki mahasiswa, dan percakapan warga yang menjadikan jembatan tua itu bagian dari rutinitas.
Meski sama-sama dikenal sebagai Jembatan Cincin, bangunan di Jatinangor ini kerap disalahartikan dengan Jembatan Cincin Widang di Jawa Timur. Padahal keduanya berbeda sejarah, berbeda fungsi, dan lahir dari lanskap yang tak sama.
Jembatan Cincin Jatinangor memiliki identitasnya sendiri.
Deretan lengkungan beton yang tersusun rapi menyerupai busur atau cincin menjadi alasan masyarakat memberi nama demikian. Sebuah karya teknik sipil awal abad ke-20 yang dibangun tanpa besi tulangan, tetapi mampu menopang beban lokomotif uap selama puluhan tahun.
Panjangnya sekitar 40 meter dengan ketinggian hampir 20 meter. Sebelas pilar menopang sepuluh lengkungan yang hingga kini masih tampak kokoh. Di tengah derasnya pembangunan Jatinangor, jembatan itu tetap berdiri tanpa banyak berubah.
