Kesenian Rengkong, Tradisi Sunda untuk Mensyukuri Hasil Panen

Kesenian Tradisional Rengkong
Rengkong merupakan kesenian asli Sunda yang lahir dari budaya masyarakatnya yang terkenal agraris.(istimewa)
0 Komentar

MASYARAKAT Sunda memiliki beragam tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Salah satunya melalui kesenian rengkong, warisan leluhur yang tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris.

Di Kabupaten Sumedang, kesenian rengkong masih dapat dijumpai dalam berbagai helaran upacara adat di Kecamatan Rancakalong. Kesenian ini kerap hadir dalam rangkaian kegiatan adat, seperti pembukaan upacara Ngalaksa dan Mapag Ibu.

Rengkong memiliki daya tarik tersendiri. Selain menjadi bagian dari tradisi, kesenian ini menghasilkan suara khas yang muncul dari gesekan tali ijuk dengan bambu. Ketika dimainkan secara berkelompok, bunyinya terdengar bersahutan menyerupai suara katak.

Baca Juga:Ngalaksa, Tarawangsa, dan Masa Depan RancakalongJatinangor dan Perjalanan Panjang Menuju Kota Pendidikan

Nama rengkong berasal dari alat pikulan yang dahulu digunakan untuk membawa padi. Alat tersebut umumnya dibuat dari bambu gombong yang berukuran panjang sekitar dua meter. Pada pikulan itu dipasang tali ijuk untuk menggantungkan ikatan padi.

Cara memainkannya terbilang unik. Pemain meletakkan pikulan bambu berisi padi di bahu, kemudian mengayunkan tubuh secara teratur ke kiri dan kanan. Gerakan tersebut membuat tali ijuk bergesekan dengan bambu hingga menghasilkan bunyi khas.

Suara rengkong akan semakin ramai ketika dimainkan oleh beberapa orang sekaligus. Dalam pertunjukannya, kesenian ini juga dapat diiringi alat musik tradisional lainnya, seperti dogdog dan angklung.

Bahan yang digunakan untuk membuat rengkong sebagian besar berasal dari alam. Di antaranya bambu berdiameter besar, tali ijuk, ikatan padi dengan berat lebih dari lima kilogram, serta hiasan tradisional yang dapat menggunakan daun pisang kering.

Para pemain rengkong umumnya laki-laki dewasa yang mengenakan pakaian adat Sunda. Mereka tampil berkelompok, membawa pikulan padi sambil berjalan mengikuti irama dan gerakan yang teratur.

Lebih dari sekadar pertunjukan, rengkong menjadi gambaran eratnya hubungan masyarakat Sunda dengan alam dan pertanian. Tradisi ini juga mencerminkan rasa syukur atas hasil bumi sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan rengkong menjadi pengingat bahwa tradisi leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga perlu dijaga agar tetap dikenal oleh generasi muda.

0 Komentar