Asal-Usul Bedug dan Takbiran: Jejak Tradisi Menyambut Hari Raya

Asal-Usul Bedug dan Takbiran: Jejak Tradisi Menyambut Hari Raya
Asal-Usul Bedug dan Takbiran: Jejak Tradisi Menyambut Hari Raya (IST.CANVA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Bulan suci Ramadhan di Indonesia selalu ditutup sama suasana khas gema takbir yang menggema di langit malam dan tabuhan bedug yang bertalu-talu dari masjid ke masjid. Tradisi ini sangat melekat dengan budaya masyarakat Muslin Nusantara sehingga terasa seperti bagian yang gak bisa terpisahkan dari perayaan Idulfitri. Tapi, gimana sebenernya asal-usul bedug dan takbiran? Dari mana tradisi ini bermula, dan gimana itu berkembangnya sampai jadi simbol kemeriahan di malam raya?

Bedug: Akulturasi Budaya dalam Syiar Islam

Badug adalah alat musik pukul dengan bentuk tabung besar dengan kedua sisi yang ditutup kulit hewan, biasanya memakai kulit sapi atau kambing. Di Indonesia, bedug hampir sering ditemukan di masjid atau mushola. Fungsinya bukan cuma alat musik, tapi juga sebagai penanda waktu ibadah, terutama sebelum azan dikumandangkan atu pas malam takbiran.

Bedug bukan berasal dari traisi Arab. Dalam sejarah islam awal di Jazirah Arab, penanda waktu salat itu memakai azan yang dikumandangkan tanpa iringan alat musik. Bedug justru dipercaya sudah ada lebih dulu di kebudayaan lokal Nusantara, dan di beberapa wilayah di Asia Timur dan Asia Tenggara sebagai alat komunikasi masyarakat.

Baca Juga:Kegiatan Ramadhan Bersama Keluarga: Menguatkan Iman dan Kebersamaan di Bulan SuciJangan Sampai Habis Sebelum Akhir Bulan! Ini Tips Mengatur Uang THR yang Bijak dan Tak Cuma Numpang Lewat

Saat Islam masuk ke Indonesia melalui para pedagang dan ulama, terjadi proses akulturasi budaya. Para penyebar Islam, termasuk yang dikenal sebagai Wali Songo di Pulau Jawa, memakai pendekatan budaya buat memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat. Salah satu bentuk pendekatan tersebut adalah memanfaatkan alat-alat yang sudah dikenal masyarakat, termasuk bedug, untuk menarik perhatian dan mengumpulkan orang sebelum azan dikumandangkan.

Di Jawa, penggunaan bedug di masjid diyakini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Demak pada abad ke-15. Bedug besar ditempatin di serambi masjid dan ditabuh sebagai penanda waktu salat atau momen penting keagamaan. Seiring waktu, bedug menjadi identitas khas masjid-masjid di Indonesia, berbeda dengan masjid di Timur Tengah yang umumnya gak memakai alat tersebut.

Pada malam Idul Fitri, tabuhan bedug jadi semakin meriah. Ia gak cuma berfungsi sebagai penanda waktu, tapi juga simbol kegembiraan dan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

0 Komentar