JATINANGOR EKSPRES – Quishing atau QR code phishing kini jadi salah satu modus penipuan digital yang makin sering muncul, termasuk di restoran. Pelaku biasanya menempelkan QR code palsu di meja, kasir, atau area pembayaran untuk mengarahkan korban ke tautan berbahaya atau rekening yang tidak sah. Jika tidak teliti, saldo dompet digital seperti DANA bisa terkuras dalam hitungan detik.
Modus ini berbahaya karena QR code terlihat sangat mirip dengan kode pembayaran asli. Banyak orang terbiasa membayar cepat tanpa memeriksa detail nama merchant, keaslian stiker, atau sumber QR code tersebut. Padahal, satu kali scan saja bisa membawa pengguna ke situs palsu, meminta login, atau langsung mengalihkan transaksi ke pihak penipu.
Cara Membedakan QR Code Asli dan Palsu
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah sumber QR code. QR code pembayaran asli biasanya terpasang rapi di area resmi restoran, seperti meja kasir atau stand pembayaran, dan terlihat menyatu dengan identitas toko. Sebaliknya, QR code penipuan sering berupa stiker tambahan yang ditempel di atas kode lama, terlihat baru, miring, atau tidak rapi.
Baca Juga:Resep Variasi Saus Celup yang Cocok untuk AYCE dan GorenganKamar Kos Instagrammable: Trik Vibe Design untuk Gen Z
Kedua, cek nama merchant yang muncul setelah QR dipindai. Mengutip dari blog OCBC, jika nama penerima tidak sesuai dengan nama restoran, itu tanda bahaya. Jangan lanjutkan transaksi sebelum bertanya ke kasir atau staf restoran. Bank dan penyedia pembayaran resmi juga menekankan pentingnya memastikan nama merchant cocok dengan tempat Anda bertransaksi.
Ketiga, gunakan aplikasi pembayaran resmi saat memindai QR code. QR asli umumnya bisa diproses oleh aplikasi mobile banking atau dompet digital resmi. Jika QR justru mengarahkan ke browser, tautan aneh, atau meminta data sensitif, segera batalkan transaksi karena itu bisa jadi quishing.
Kenali Tanda QR Code Scammer
Beberapa ciri QR code penipuan mudah dikenali jika Anda lebih waspada. Kode berasal dari sumber tidak jelas, ditempel terburu-buru, atau disebar lewat pesan dan media sosial tanpa identitas jelas. Pelaku juga sering memancing korban dengan promo palsu, diskon besar, atau ajakan scan cepat agar korban tidak sempat berpikir.
