Dari Kampus UI ke Balai Desa, Kepala Desa Sukajaya Membawa Pulang Agenda Perubahan

Kepala Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Sukana, S.M., M.M.,
BERSWAFOTO: Kepala Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Sukana, S.M., M.M., berfoto di depan Kampus Universitas Indonesia, Depok, usai mengikuti Program Kepala Desa Masuk Kampus (KDMK) Angkatan II Tahun 2026 yang diselenggarakan Kemendagri bekerja sama dengan Universitas Indonesia.(Achmad/Sumeks)
0 Komentar

TIDAK setiap kepala desa memiliki kesempatan duduk di ruang kuliah Universitas Indonesia untuk membahas masa depan desanya. Kesempatan itu tahun ini datang kepada Sukana, Kepala Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang.

Ia menjadi salah satu kepala desa yang terpilih mengikuti Program Kepala Desa Masuk Kampus (KDMK) Angkatan II Tahun 2026, sebuah program yang digagas Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, bekerja sama dengan Universitas Indonesia di Kampus Depok.

Keikutsertaan Sukana bukan sekadar memenuhi kuota peserta. Penunjukan tersebut merupakan hasil rekomendasi Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), yang menilai rekam jejak kepemimpinan, inovasi, serta kinerja Pemerintah Desa Sukajaya layak menjadi representasi daerah dalam forum nasional tersebut.

Baca Juga:MPLS SMAN 2 Cimalaka Tanamkan Karakter Panca WaluyaSMPN 1 Cimanggung Inisiatifkan Sisa MBG jadi Pakan Ternak

Program KDMK merupakan bagian dari Program Pemerintahan Desa Berdampak Tahun 2026. Sebanyak 868 kepala desa dari berbagai provinsi di Indonesia mengikuti kegiatan ini yang dibagi ke dalam dua angkatan, masing-masing berjumlah 434 peserta. Angkatan kedua berlangsung pada 13–16 Juli 2026 di Universitas Indonesia.

Bagi Sukana, empat hari mengikuti perkuliahan menjadi pengalaman yang memperluas cara pandang mengenai tata kelola pemerintahan desa. Berbagai materi disampaikan langsung oleh para akademisi Universitas Indonesia bersama narasumber dari Kementerian Dalam Negeri.

Materi yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek administrasi pemerintahan, tetapi juga strategi kepemimpinan, tata kelola pemerintahan desa, manajemen informasi publik, perencanaan pembangunan berbasis data, pengelolaan keuangan desa, hilirisasi ekonomi desa, pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemberdayaan masyarakat, hingga penggalian potensi desa melalui inovasi sosial dan kemitraan.

“Selama mengikuti kegiatan ini kami memperoleh banyak wawasan baru yang dapat diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa,” ujar Sukana saat ditemui di kantornya.

Tak hanya menerima materi di ruang kelas, seluruh peserta juga ditantang menyusun rencana implementasi inovasi menggunakan pendekatan design thinking. Rancangan tersebut diarahkan menjadi solusi konkret terhadap berbagai persoalan pembangunan yang dihadapi desa masing-masing.

Menurut Sukana, pendekatan tersebut mendorong kepala desa tidak sekadar menjadi administrator pemerintahan, tetapi juga menjadi pemimpin yang mampu melahirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

0 Komentar