“Mitelor… mitelor… mitelor…”
katanya berulang-ulang.
Lalu sambungnya tanpa ampun:
“Aku mau telor dadar.”
Barangkali beginilah cara semesta bekerja. Dari meteor menjadi mitelor. Dari benda langit menjadi lauk makan malam.
Saya lalu menjelaskan sebisanya.
Meteor itu batu dari luar angkasa. Masuk atmosfer. Bergesekan dengan udara. Menjadi panas.
Anakku mendengarkan dengan wajah penuh perhatian.
“Kalau meteor panas banget ya, Bi?”
“Iya.”
Lalu datanglah pertanyaan yang membuat para profesor kadang tampak kurang siap dibanding anak usia empat tahun.
Baca Juga:Cegah Konflik Pilkades, Forkopimcam Cimanggung Sambangi Calon KadesDam Cipetey Jadi Perhatian, Pengairan Lahan Pertanian Sukamantri Diharapkan Membaik
“Kalau burung Ababil bawa batu buat pasukan gajah, berarti panas dong?”
“Iya.”
“Terus kok kuat burungnya?”
Saya terdiam beberapa detik.
Dalam dunia akademik mungkin diperlukan kajian multidisipliner, seminar internasional, dan publikasi Scopus Q1 untuk menjawab itu.
Tapi sebagai bapak menjelang pukul sembilan malam, saya menjawab singkat:
“Karena diperintah Allah.”
Ia tampak puas.
Saya juga puas.
Karena kadang-kadang yang dicari anak bukan ketepatan metodologis, melainkan kepastian bahwa dunia masih bisa dipahami.
Cerita pun berakhir.
Bukan karena diskusi astronomi selesai.
Melainkan karena ia kembali pada tujuan utama.
“Jangan mi telor ya, Bi. Telor dadar.”
Belakangan saya menyadari, ritual semacam ini sesungguhnya bukan sekadar pengantar tidur.
Ini adalah pekerjaan sosiologis yang sering tidak disadari.
Pierre Bourdieu mungkin menyebutnya sebagai reproduksi cultural capital. Saya menyebutnya: ngobrol receh di atas kasur.
Tetapi dari ngobrol receh itulah seorang anak belajar bahasa, simbol, nilai, cara berpikir, bahkan cara tertawa.
Dongeng, pertanyaan bodoh, candaan receh, permainan kata seperti “mitelor”, semuanya adalah deposito kebudayaan yang disetor sedikit demi sedikit ke dalam rekening batin anak.
Bunganya tidak cair besok pagi.
Baca Juga:Pengangguran Sumedang 37 Ribu Orang, Job Fair Hadirkan 1.424 LowonganDana Desa Sukajaya Rp300 Juta, Pembangunan 2027 Harus Berbagi Prioritas
Tetapi mungkin tumbuh dua puluh tahun kemudian ketika ia menjadi manusia yang mampu berpikir dan berempati.
Dalam kacamata Durkheim, ritual kecil itu juga menciptakan solidaritas.
Bukan solidaritas nasional.
Bukan solidaritas koalisi.
Bukan pula solidaritas yang muncul menjelang pemilu.
Melainkan solidaritas paling dasar: rasa aman karena ada ayah, ada ibu, dan ada waktu yang dibagikan bersama.
Di situlah keluarga sebenarnya bekerja.
