Desainnya dibuat agar sejumlah komponen dapat diganti dan dikembangkan. Dengan begitu, pengembangan Pedaltrax tidak harus berhenti pada tim yang membuat purwarupa pertamanya.
Ke depan, ITB juga membuka kemungkinan menghubungkan pengembangan Pedaltrax dengan riset elektrifikasi berbasis pengolahan sampah yang tengah dilakukan peneliti kampus.
Jika gagasan itu berkembang, kendaraan ini bukan hanya berbicara tentang bagaimana manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Baca Juga:Proyek Rp2,76 Miliar di SMAN Cimanggung Disoal: Bangunan Dikebut, K3 Diabaikan Pilkades Digital Sumedang di Ujung Kepastian Regulasi
Ia menjadi bagian dari percobaan yang lebih besar: bagaimana kampus membangun sistem mobilitas yang lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan dapat digunakan oleh lebih banyak orang. Pedaltrax mungkin baru sebuah purwarupa.
Tetapi dari tanjakan Jatinangor, ITB sedang menguji satu gagasan: bahwa kendaraan kampus tidak harus memilih antara teknologi, manusia, dan lingkungan. Ketiganya justru bisa dirancang untuk bergerak bersama.
