Pedaltrax, Kendaraan ITB yang Menantang Tanjakan Jatinangor

Pedaltrax ITB Jatinangor
Pedaltrax, kendaraan hybrid hasil kolaborasi FSRD dan FTMD ITB, dirancang untuk menjawab kebutuhan mobilitas di Kampus Jatinangor yang memiliki banyak tanjakan sekaligus membawa prinsip desain inklusif.
0 Komentar

Pedaltrax menggunakan sistem penggerak hybrid.

Di jalan datar, tenaga manusia melalui kayuhan menjadi bagian dari sumber geraknya. Ketika menghadapi tanjakan, motor listrik memberikan bantuan agar beban pengguna tidak sepenuhnya bertumpu pada tenaga kaki.

Kendaraan ini menggunakan baterai 72 volt 45 Ah dan motor BLDC berdaya 3.000 watt. Sistem penggeraknya menggunakan reduksi 2:1.

Berdasarkan perkiraan awal tim pengembang, Pedaltrax dapat menempuh sekitar 60 hingga 80 kilometer dalam sekali pengisian daya. Namun, angka tersebut bukan jarak tempuh yang mutlak karena penggunaan energi sangat bergantung pada medan, beban, dan pola pemakaian.

Baca Juga:Proyek Rp2,76 Miliar di SMAN Cimanggung Disoal: Bangunan Dikebut, K3 Diabaikan Pilkades Digital Sumedang di Ujung Kepastian Regulasi

Ada sumber energi lain yang ikut ditempelkan pada kendaraan tersebut: matahari.

Pedaltrax dilengkapi panel surya berkapasitas 120 Wp. Energi dari panel tersebut dapat membantu pengisian baterai melalui kontroler dengan sistem MPPT atau Maximum Power Point Tracking.

Ketika pengendara mengayuh sekaligus menggunakan bantuan motor listrik, kebutuhan energi dari baterai juga dapat ditekan sesuai kondisi perjalanan.

Gagasannya sederhana: manusia tetap menjadi bagian dari sistem, listrik menjadi bantuan, dan matahari ikut menyumbang energi.

Pedaltrax juga membawa gagasan yang lebih luas dari sekadar kendaraan ramah lingkungan.

Kendaraan tersebut dilengkapi bagasi untuk membawa barang dan akses bagi kursi roda. Artinya, sejak awal desain tidak hanya berbicara tentang kecepatan atau kemampuan menaklukkan tanjakan.

Ada pertanyaan tentang siapa yang bisa menggunakan kendaraan itu.

Prinsip desain inklusif tersebut membuat Pedaltrax tidak hanya menjadi proyek rekayasa. Mahasiswa juga dilibatkan dalam proses pengujian dan evaluasi melalui mata kuliah Desain Mobilitas serta Laboratorium DEMAND di FSRD ITB.

Kendaraan itu kemudian diuji untuk mencari kekurangan sekaligus kemungkinan pengembangannya.

Baca Juga:Cerita Samalengoh Camp Menjaga Alam dan Ekonomi DesaDua Tahun Pandangan Eti Terhalang Katarak, Kini Dapat Kepastian Operasi Gratis

“Jadi produk ini untuk mahasiswa, dan oleh mahasiswa,” ujar Bismo.

Kalimat itu sekaligus menggambarkan posisi Pedaltrax sebagai ruang pertemuan antara ruang kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

Pedaltrax mulai didesain pada Mei 2026. Pengembangan dilanjutkan pada Juni dan memasuki tahap fabrikasi pada Juli 2026.

Versi yang ada saat ini masih berupa purwarupa awal.

Artinya, kendaraan tersebut belum berhenti sebagai produk yang dianggap selesai. Masih ada ruang untuk menguji, memperbaiki dan mengembangkan komponen maupun sistemnya. Tim juga berupaya menggunakan komponen buatan Indonesia selama tersedia dan sesuai kebutuhan.

0 Komentar