Pedaltrax, Kendaraan ITB yang Menantang Tanjakan Jatinangor

Pedaltrax ITB Jatinangor
Pedaltrax, kendaraan hybrid hasil kolaborasi FSRD dan FTMD ITB, dirancang untuk menjawab kebutuhan mobilitas di Kampus Jatinangor yang memiliki banyak tanjakan sekaligus membawa prinsip desain inklusif.
0 Komentar

JATINANGOR – Tanjakan menjadi bagian dari keseharian di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor. Bagi sebagian mahasiswa, jalan menanjak mungkin sekadar rute yang harus dilewati. Tetapi bagi mereka yang membawa banyak barang, atau memiliki kebutuhan aksesibilitas, tanjakan bisa menjadi persoalan mobilitas.

Dari persoalan itulah Pedaltrax lahir.

Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan kendaraan hybrid yang memadukan tenaga manusia dan listrik sebagai alternatif transportasi di lingkungan kampus. Kendaraan ini tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada baterai. Penggunanya tetap mengayuh, sementara motor listrik membantu ketika medan mulai menanjak.

Pedaltrax dikembangkan melalui kolaborasi bidang Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB.

Baca Juga:Proyek Rp2,76 Miliar di SMAN Cimanggung Disoal: Bangunan Dikebut, K3 Diabaikan Pilkades Digital Sumedang di Ujung Kepastian Regulasi

Namun, yang menarik dari kendaraan ini bukan hanya soal bagaimana roda bisa bergerak.

Sejak awal, Pedaltrax dirancang untuk menjawab pertanyaan yang lebih sederhana: bagaimana mahasiswa bisa bergerak lebih mudah di kampus tanpa mengabaikan lingkungan dan kebutuhan pengguna yang berbeda?

Dosen Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri ITB, Dr. Bismo Jelantik Joyodiharjo, S.Sn., M.Ds., mengatakan gagasan Pedaltrax berawal dari pemetaan kebutuhan pengguna. Salah satu sumber masukannya datang dari mahasiswa melalui mata kuliah Pengenalan Rekayasa dan Desain (PRD).

Mahasiswa menemukan sejumlah persoalan yang mereka hadapi sendiri. Membawa barang menjadi salah satunya. Jalan menanjak menjadi persoalan lain. Di sisi berbeda, muncul kebutuhan agar kendaraan kampus juga dapat digunakan oleh pengguna dengan kebutuhan aksesibilitas.

Persoalan-persoalan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rancangan.

Tim tidak mengambil bentuk kendaraan yang sudah ada lalu memodifikasinya. Pedaltrax justru dimulai dari “kanvas kosong”. Ergonomi, posisi mengayuh, visibilitas pengendara, distribusi beban hingga efisiensi struktur diperhitungkan sejak awal.

“Bagaimana dia bisa tetap mengayuh, tetapi posisinya ergonomis dan sudut pandangnya ke depan juga tidak terganggu. Kemudian tentu ada hukum-hukum fisika, salah satunya distribusi beban itu harus merata,” kata Bismo.

Dari proses tersebut lahir kendaraan yang tidak hanya dirancang untuk bergerak, tetapi juga untuk digunakan manusia dalam kondisi nyata.

0 Komentar