TANJUNGSARI – Pemerintah Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, mengembangkan inovasi pengelolaan sampah melalui program SAGARA TUNGGUL (Sampah Gelasan Ramah Lingkungan dan Berdaya Guna Kutamandiri Unggul). Program ini diarahkan untuk mengurangi persoalan sampah sekaligus membuka peluang usaha bagi warga.
Inovasi tersebut memanfaatkan potensi lokal Desa Kutamandiri yang dikenal sebagai sentra pengrajin benang gelasan. Produk kerajinan desa ini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga menembus pasar luar negeri.
Salah satu bentuk pengembangan program SAGARA TUNGGUL adalah mengolah karung dan plastik bekas menjadi klosan atau tempat penyimpanan benang gelasan. Bahan yang sebelumnya tidak terpakai diolah kembali menjadi barang yang memiliki fungsi dan berpotensi menghasilkan nilai ekonomi.
Baca Juga:Kandang Domba di Pamulihan Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp100 JutaPengadaan Seragam SMAN Jatinangor Berpolemik, Sekolah Jadwalkan Klarifikasi
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan pada kebersihan lingkungan, tetapi juga dikembangkan sebagai kegiatan produktif yang dapat melibatkan masyarakat.
Warga didorong memilah sampah sejak dari rumah dengan memisahkan bahan organik dan anorganik. Pemilahan ini diharapkan memudahkan proses pengolahan sekaligus mengurangi jumlah sampah yang berakhir di lingkungan.
Kepala Desa Kutamandiri, Agustina, mengatakan program SAGARA TUNGGUL akan terus dilanjutkan dan dikembangkan. Menurut dia, inovasi tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah desa untuk memperluas peluang ekonomi masyarakat di tengah persoalan pengangguran.
Berdasarkan data Pemerintah Desa Kutamandiri, terdapat 969 warga yang masuk kategori pengangguran. Angka tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penyusunan program pemberdayaan masyarakat.
“Inovasi ini akan terus kami lanjutkan dan kembangkan. Kami berharap melalui program SAGARA TUNGGUL, masyarakat bisa memiliki peluang usaha baru sehingga angka pengangguran di Desa Kutamandiri terus berkurang,” kata Agustina.
Ia berharap pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi dapat berkembang melampaui kegiatan kebersihan lingkungan dan menjadi aktivitas produktif yang memberikan manfaat bagi warga.
Namun, keberlanjutan program membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kelompok masyarakat, kader lingkungan hingga generasi muda. Pelatihan keterampilan, pendampingan produksi, penyediaan sarana pengolahan, serta akses pemasaran menjadi faktor penting untuk mengembangkan usaha berbasis daur ulang.
Baca Juga:Utang Rp25 Juta Diduga Picu Pembunuhan Sopir Taksi Online di Kebun Teh Cisoka SumedangKronologi Pembunuhan Sopir Online di Sumedang: Berawal dari Cekcok, Berakhir di Kuburan
Pengembangan desain, kualitas produk, dan strategi pemasaran juga perlu diperhatikan agar barang hasil olahan sampah mampu menjangkau konsumen yang lebih luas. Media sosial dan pameran produk lokal dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas pasar.
