JATINANGOR EKSPRES – Childfree adalah keputusan sadar seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak, baik untuk waktu tertentu maupun selamanya. Pilihan ini biasanya berkaitan dengan cara seseorang menetapkan prioritas dalam hidup, bukan karena ketidakmampuan biologis untuk memiliki anak.
Menurut beberapa orang yang memutuskan untuk childfree, mereka yakin akan hidup lebih bahagia dikarenakan beban hidup yang berkurang serta memiliki lebih banyak waktu untuk fokus menempuh dunia karier. Individu yang memilih hidup childfree kerap merasa bahwa keputusan tersebut sangat sesuai dengan nilai pribadi mereka dan memberikan rasa kendali yang lebih besar terhadap arah kehidupan mereka.
Benturan Pilihan dengan Stigma Masyarakat
Pandangan dan nilai yang dipatok oleh lingkungan sosial tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita, termasuk dalam hal mengambil keputusan childfree. Secara normatif, seseorang yang menikah tentu diharapkan atau sangat ingin memiliki anak. Hal ini berbeda jauh dengan prinsip childfree, sehingga keputusan ini kerap memicu munculnya stigma buruk dari masyarakat luas.
Baca Juga:Psikologi Warna Kamar Balita: Pilihan Warna Terbaik untuk Stimulasi Otak dan Memori AnakCara Menghitung SHU Koperasi: Tips dan Simulasi agar Mendapat Bagian Lebih Banyak
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Park, memiliki anak sangat erat hubungannya dengan ekspektasi budaya yang menempatkan reproduksi sebagai peran gender tradisional, terutama pada kaum perempuan. Dengan adanya konstruksi sosial tersebut, orang yang memutuskan untuk childfree sering kali dipandang negatif karena dinilai tidak sejalan dengan norma-norma yang biasa berlaku di masyarakat pada umumnya.
Apakah Childfree Pasti Bahagia?
Penelitian membuktikan bahwa hidup bahagia tanpa anak sangat mungkin terjadi. Bahkan, beberapa studi mengindikasikan tingkat kesejahteraan subjektif kaum childfree setara atau justru lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki anak. Data dari Pew Research Center mengonfirmasi bahwa mayoritas orang dewasa di AS yang memutuskan tidak memiliki anak merasa puas dengan hidup mereka. Kepuasan ini dipicu oleh faktor fleksibilitas waktu, stabilitas ekonomi, dan minimnya tingkat kecemasan dalam hidup.
Sebaliknya, riset dari Nomaguchi dan Milkie mengungkapkan bahwa pola asuh anak rentan memicu tekanan peran (role strain) dan kelelahan mental (burnout), khususnya jika pasangan tersebut minim dukungan sosial. Kondisi ini memberikan keunggulan bagi individu childfree dalam menjaga stabilitas emosional serta keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi (work-life balance).
