Cerita Samalengoh Camp Menjaga Alam dan Ekonomi Desa

Samalengoh Camp
Samalengoh Camp di Desa Gunturmekar menawarkan wisata camping berbasis alam dengan tetap mempertahankan identitas lokal dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
0 Komentar

Pengelola menyediakan enam kamar mandi, dua toilet, mushala, warung, sekretariat, gudang, serta area penyewaan perlengkapan camping. Tersedia pula tenda VIP dan tenda reguler.

Untuk urusan makanan, Samalengoh belum membuka restoran permanen. Pengunjung dapat memesan makanan melalui sistem booking, seperti nasi liwet dan barbecue.

Pengunjung juga dapat memasak sendiri dengan peralatan yang disediakan pengelola.

Konsep itu sengaja dipertahankan agar Samalengoh tidak berubah menjadi rumah makan yang kebetulan memiliki area camping.

Baca Juga:Dua Tahun Pandangan Eti Terhalang Katarak, Kini Dapat Kepastian Operasi GratisEnam Nama, Satu Amanah

“Kita ingin tetap memiliki karakter sebagai tempat camping,” ujar Dadan.

Jam operasional pun mengikuti kondisi kunjungan. Pada hari biasa, kawasan dibuka mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB. Sementara Jumat, Sabtu, dan Minggu, area camping dapat beroperasi selama 24 jam.

Pada musim liburan, termasuk Juni hingga Agustus, operasional dapat berlangsung sepanjang hari selama sepekan. Saat kunjungan sepi, pengelola melakukan efisiensi dan lebih banyak membuka kawasan pada akhir pekan.

Saat periode libur Natal dan Tahun Baru, operasional kembali dapat berlangsung 24 jam.

Untuk masuk ke kawasan Samalengoh Camp, pengunjung camping dikenai tarif Rp20 ribu per orang. Sementara pengunjung biasa dikenai tiket Rp10 ribu per orang.

Saat ini, sekitar sembilan orang terlibat dalam pengelolaan. Mereka terdiri atas enam petugas, dua petugas tiket, dan pengelola.

Angka itu mungkin belum besar. Tetapi bagi Dadan, ukuran keberhasilan Samalengoh tidak semata-mata jumlah wisatawan yang datang.

Baca Juga:Debu Tambang Kepung SekolahEra Baru Pengelolaan Sampah Sumedang

Ada pekerjaan yang ingin diciptakan. Ada ekonomi warga yang ingin digerakkan.

Karena itu, perkembangan Samalengoh diharapkan tidak berhenti di dalam kawasan camping. Masyarakat Gunturmekar diharapkan ikut menangkap peluang yang muncul dari kedatangan wisatawan.

“Harapannya orang Desa Gunturmekar bisa bekerja langsung atau menciptakan produk ekonomi baru, seperti tempat makan dan minum. Semakin banyak yang bergerak, semakin banyak yang bisa berkolaborasi dengan desa-desa tetangga,” tutur Dadan.

Dengan cara itu, wisata tidak berhenti sebagai tempat orang datang, berfoto, lalu pulang.

Ada perputaran uang yang tinggal di desa. Ada kesempatan kerja yang terbuka. Ada kemungkinan lahirnya usaha baru.

0 Komentar