Debu Tambang Kepung Sekolah

SMAN 2 Cimalaka
DIKELUHKAN: Tampak Lapangan upacara dan olah raga di SMAN 2 Cimalaka berwarna ke abu- abuan karena ditutupi abu tebal polusi dari penggalian pasir, baru-baru ini.(Ahmad/Sumeks)
0 Komentar

DEBU dari aktivitas penambangan batu dan pasir di Desa Licin, Kecamatan Cimalaka, kembali menjadi keluhan sekolah dan perguruan tinggi. Memasuki musim kemarau, kepulan debu semakin mudah terbawa angin hingga masuk ke ruang kelas, menutupi halaman sekolah, dan mengganggu aktivitas belajar.

Di SMAN 2 Cimalaka, membersihkan debu setiap pagi sudah menjadi rutinitas sebelum kegiatan belajar dimulai. Meja, kursi, lantai kelas, lapangan olahraga, hingga atap bangunan harus dibersihkan karena tertutup debu yang berasal dari lalu lalang kendaraan pengangkut material tambang.

Kepala SMAN 2 Cimalaka, Sopian Trenggana, mengatakan kondisi tersebut belum menunjukkan perubahan meski pihak sekolah bersama sejumlah sekolah lain dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang telah menyampaikan surat keberatan kepada pemerintah desa.

Baca Juga:Era Baru Pengelolaan Sampah SumedangPenertiban Bangunan Berujung Temuan Puluhan Botol Miras

”Polusi dari galian batu dan pasir sampai sekarang masih mengganggu aktivitas sekolah. Debu masuk ke ruang kelas, aula, menutupi lapangan olahraga dan upacara, bahkan atap-atap bangunan,” katanya.

Keluhan juga datang dari UPI Kampus Sumedang yang berada tidak jauh dari lokasi aktivitas penambangan. Kampus yang setiap pekan menjadi tempat belajar lebih dari 3.000 mahasiswa itu mulai merasakan dampak pencemaran debu terhadap kegiatan akademik.

Wakil Direktur II UPI Kampus Sumedang, Maulana, mengatakan kepulan debu tidak lagi sekadar mengurangi kenyamanan, tetapi mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan sivitas akademika.

”Dengan kepadatan sivitas akademika yang begitu tinggi, pencemaran debu akibat aktivitas galian pasir tentu sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Keluhan yang terus berulang akhirnya mendapat respons dari Pemerintah Kecamatan Cimalaka. Camat Cimalaka Eneng Yulia mengatakan pihaknya akan turun langsung ke lapangan sekaligus mempertemukan pemerintah desa dan para pengusaha tambang untuk membahas langkah pengendalian debu.

Menurut Eneng, penyiraman jalan sebenarnya telah dilakukan oleh pengusaha tambang, baik di ruas jalan kabupaten maupun akses menuju lokasi galian. Namun, cuaca kemarau yang kering membuat upaya tersebut belum mampu menekan debu secara maksimal.

”Penyiraman memang sudah dilakukan, tetapi karena cuaca sangat panas, frekuensinya harus lebih sering,” katanya.

Baca Juga:Ombudsman Mulai Selidiki Laporan Geothermal TampomasMenanti Pelayanan yang Lebih Cepat

Dalam waktu dekat, kecamatan akan menggelar rapat bersama pemerintah desa dan pelaku usaha tambang. Selain mengevaluasi upaya yang sudah berjalan, rapat tersebut juga akan disertai penyampaian surat imbauan agar pengendalian debu dilakukan lebih serius.

0 Komentar