GUNTURMEKAR – Tidak semua tempat wisata ingin dipenuhi manusia. Di Samalengoh Camp, Desa Gunturmekar, Kecamatan Sumedang?, pengelola justru memilih membatasi jumlah orang yang boleh datang.
Kapasitas camping di kawasan itu hanya sekitar 20 orang. Padahal, menurut pendirinya, Dadan Setianugraha, pernah ada tawaran agar Samalengoh menerima hingga sekitar 500 pengunjung.
Tawaran itu tidak diambil.
Bagi pengelola, terlalu banyak orang berarti terlalu besar pula tekanan terhadap kawasan alam yang sejak awal menjadi alasan Samalengoh Camp dibangun.
Baca Juga:Dua Tahun Pandangan Eti Terhalang Katarak, Kini Dapat Kepastian Operasi GratisEnam Nama, Satu Amanah
“Kita coba tempatnya, kita cek saat hujan dan sebagainya. Jadi persiapannya hampir dua tahun sebelum membuka wisata Samalengoh,” kata Dadan saat ditemui Sumedang Ekspres.
Samalengoh bukan destinasi yang lahir dalam semalam. Persiapannya dimulai sejak akhir 2018. Selama hampir dua tahun, pengelola mengamati kondisi kawasan, termasuk mengujinya ketika musim hujan.
Tempat itu kemudian mulai dibangun pada 2020 dan resmi dibuka pada 6 Agustus tahun yang sama.
Di antara pepohonan dan kawasan perbukitan, konsep camping dipilih. Namun, pengelola tidak ingin Samalengoh kehilangan sesuatu yang lebih tua daripada nama tempat wisatanya: identitas lokal.
Nama Samalengoh sendiri tidak muncul dari meja pemasaran. Bukit tempat wisata itu berdiri dikenal masyarakat dengan sejumlah nama. Ada yang menyebut Salamengoh, Samalengoh, hingga Pasir Kiara.
Dadan mengatakan, nama Samalengoh kemudian dipilih karena kawasan tersebut memiliki mata air yang dikenal sebagai Mata Air Samalengoh. Airnya mengalir dari kawasan puncak menuju Nagrak.
Nama itu kemudian dipertahankan.
Ada pula cerita lain di baliknya. Ketika pembangunan dimulai, sebagian besar anak muda karang taruna yang terlibat belum menikah.
Baca Juga:Debu Tambang Kepung SekolahEra Baru Pengelolaan Sampah Sumedang
“Mayoritas belum menikah, jadi sama-sama lengoh. Itu juga menjadi salah satu filosofi nama Samalengoh,” ujar Dadan.
Bagi pengelola, nama tersebut bukan sekadar merek wisata. Ia menjadi penanda bahwa tempat itu lahir dari lingkungan dan masyarakat setempat.
“Produk kita memang camping, bukan produk lokal. Camp itu bahasa Inggris, tetapi Samalengoh adalah identitasnya sendiri,” katanya.
Pilihan membatasi pengunjung membuat Samalengoh Camp memiliki wajah yang berbeda.
