KOTA – Lebih dari satu abad bertahan di tengah perkembangan industri kuliner, Tahu Bungkeng tetap menjadi bagian dari identitas kuliner Kabupaten Sumedang. Berdiri sejak 1917, usaha keluarga ini terus menjaga cita rasa tahu goreng khas Sumedang sekaligus menghadirkan inovasi produk untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pemilik Tahu Bungkeng, Edric, menjelaskan, sejarah tahu di Sumedang bermula dari Ong Kino, seorang imigran asal Tiongkok yang merintis pembuatan tahu untuk konsumsi keluarga sekitar 1910. Saat itu, tahu masih diolah dengan cara direbus sebelum berkembang menjadi tahu goreng yang kemudian dikenal luas.
“Nama Tahu Bungkeng berasal dari Ong Bungkeng, yang mulai mengembangkan dan menjual tahu goreng khas Sumedang pada 1917,” kata Edric saat diwawancarai Sumeks, Selasa (13/10).
Baca Juga:SAGARA TUNGGUL Kutamandiri Tanjungsari Ubah Sampah Jadi Peluang UsahaKandang Domba di Pamulihan Terbakar, Kerugian Ditaksir Rp100 Juta
Menurut Edric, ciri khas tahu Bungkeng terletak pada teksturnya yang garing di bagian luar, tetapi tetap lembut di bagian dalam. Karakter tersebut menjadi salah satu identitas produk yang dipertahankan di tengah perubahan selera konsumen.
Kini, usaha tersebut telah memasuki generasi kelima. Sebagai penerus bisnis keluarga, Edric berupaya menjaga keberlangsungan usaha yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kuliner Sumedang.
Menurut dia, mempertahankan usaha yang telah berumur panjang tidak lepas dari tantangan biaya produksi dan penentuan harga jual. Perhitungan harga perlu mempertimbangkan biaya bahan baku, proses produksi, serta keberlangsungan usaha agar produk tetap dapat dijangkau konsumen.
“Penentuan harga tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus memperhitungkan biaya produksi dan keberlangsungan usaha,” ujarnya.
Di samping mempertahankan tahu goreng sebagai produk andalan, Tahu Bungkeng juga mengembangkan menu baru bernama Nori Tofu atau Noritfu yang berbahan dasar susu kedelai.
Edric menjelaskan, proses pembuatan produk tersebut membutuhkan waktu dan tahapan yang cukup panjang. Pengolahan susu kedelai memerlukan waktu sekitar 10 jam, sedangkan keseluruhan proses produksi Noritfu dapat berlangsung hingga lima hari.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya Tahu Bungkeng memperluas pilihan produk tanpa meninggalkan karakter utama tahu khas Sumedang yang telah dikenal lintas generasi.
Baca Juga:Pengadaan Seragam SMAN Jatinangor Berpolemik, Sekolah Jadwalkan KlarifikasiUtang Rp25 Juta Diduga Picu Pembunuhan Sopir Taksi Online di Kebun Teh Cisoka Sumedang
Bagi Edric, menjaga usaha keluarga bukan hanya soal mempertahankan resep dan rasa. Adaptasi terhadap perkembangan zaman, pengelolaan biaya, serta perluasan pemasaran juga menjadi bagian penting agar usaha tetap mampu bersaing.
