Dugaan Kekerasan di Asrama Sekolah Rakyat Sumedang, Keterangan Sekolah dan Unggahan Berselisih

Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang.(istimewa)
0 Komentar

JATINANGOREKSPRES – Sebuah unggahan di media sosial Threads memunculkan dugaan kekerasan terhadap seorang siswa berusia 11 tahun di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sumedang, Kecamatan Ujungjaya.

Pihak sekolah membantah gambaran kondisi fisik korban dalam unggahan tersebut. Dugaan yang beredar masih perlu ditelusuri.

Akun Threads @ryu_reall mengunggah tudingan bahwa seorang siswa kelas V sekolah dasar berinisial MRA mengalami perlakuan fisik kasar dari oknum pengasuh asrama.

Baca Juga:Usai PERSIB Kalah 0-1, Sandy Walsh Bidik Kemenangan atas Garudayaksa388 Ribu Warga Sumedang Ikut CKG, Lima Temuan Masalah Kesehatan Jadi Perhatian

Unggahan itu juga memuat klaim mengenai luka di dahi dan dugaan penyulutan puntung rokok pada kulit anak tersebut.

Klaim itu belum terverifikasi secara independen. Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan yang memastikan seluruh dugaan tersebut.

Kepala SRT 1 Sumedang, Cece Enjang Kartiwa, membenarkan MRA merupakan peserta didik di lembaganya. Namun, ia membantah kondisi fisik siswa itu seperti yang digambarkan dalam unggahan.

“Anak itu betul peserta didik kami pada jenjang kelas V SD. Namun, keadaan fisiknya tidaklah seperti kabar yang ramai diperbincangkan,” kata Cece, Jumat, 23 Oktober 2026, sebagaimana dikutip dari sejumlah sumber.

Menurut Cece, MRA dijemput kakek dan neneknya pada 8 Oktober 2026 untuk pulang sementara ke Tasikmalaya.

Ia menyatakan siswa tersebut dalam kondisi sehat dan tidak mengalami luka ketika meninggalkan lingkungan asrama.

“Kami tegaskan tatkala kakek dan neneknya datang menjemput, kepulangan anak tersebut dalam kondisi fit serta tanpa luka sedikit pun,” ujarnya.

Baca Juga:Ada 5.000 Anak Tidak Sekolah di Sumedang, Ini Strategi Mengembalikan Mereka ke PendidikanAntisipasi Banjir di Cimanggung, Akur Siap Bantu Biaya Normalisasi Sungai Cimande

Keterangan itu menjadi bantahan pihak sekolah terhadap gambaran kondisi fisik siswa dalam unggahan media sosial. Namun, kondisi anak saat dijemput keluarga tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah dugaan perlakuan fisik sebelumnya terjadi atau tidak.

Cece mengatakan, pihak sekolah akan menelusuri dugaan tersebut. Jika ditemukan kontak fisik yang melanggar ketentuan, sekolah akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan berkonsultasi dengan otoritas pusat.

“Seandainya terbukti ada aksi kontak fisik antara pengasuh dan anak didik, kami bakal melakukan penelusuran mendalam serta berkonsultasi dengan otoritas pusat,” katanya.

Ia menjelaskan, MRA berasal dari Kota Tasikmalaya dan ditempatkan sementara di SRT 1 Sumedang karena fasilitas Sekolah Rakyat mandiri di daerah asalnya belum rampung.

0 Komentar