Kolecer, Mainan Tradisional Sunda yang Kian Terlupakan

mainan tradisional kolecer
ILUSTRASI: Salah seorang anak SD tengah memainkan permainan tradisional kolecer.(ig: @sosmasphi)
0 Komentar

TANJUNGKERTA – Sebelum gawai menjadi bagian dari keseharian anak-anak, permainan sederhana yang mengandalkan hembusan angin pernah menghadirkan keseruan tersendiri. Salah satunya kolecer, mainan tradisional yang dikenal masyarakat Sunda dan menjadi bagian dari kekayaan permainan lokal.

Terbuat dari bilah bambu atau kayu yang dipasang pada sebuah poros, kolecer dapat berputar ketika diterpa angin. Gerakannya yang khas, disertai suara yang dihasilkan saat berputar, menjadi daya tarik permainan yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana dari lingkungan sekitar.

Bagi Iwan, seorang remaja yang masih menyukai permainan kolecer, kesederhanaan justru menjadi bagian dari keistimewaan mainan tersebut. Kolecer tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga memperlihatkan kreativitas dalam mengolah bahan yang mudah ditemukan menjadi sesuatu yang menarik.

Baca Juga:Margamekar Siapkan Prioritas 2027, Kesehatan dan Pemberdayaan Jadi FokusSidik Jafar Minta Anggota DPRD Sumedang Masif Sosialisasikan Pilkades Digital

“Pada zaman dahulu, kolecer sering ditemukan di pedesaan dan dipasang di tempat terbuka agar mudah terkena angin. Anak-anak maupun orang dewasa dapat menikmati permainan ini sambil melihat putarannya yang menarik,” ujar Iwan saat diwawancarai Sumeks, Rabu 21 Oktober 2026.

Namun, seiring perkembangan teknologi, pilihan hiburan anak-anak semakin beragam. Gawai dan permainan digital kini menjadi bagian dari keseharian, sementara permainan tradisional seperti kolecer semakin jarang terlihat.

Iwan menyayangkan perubahan tersebut. Menurutnya, permainan tradisional memiliki keseruan tersendiri yang tidak hanya terletak pada bentuk atau cara memainkannya, tetapi juga pada kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan teman sebaya.

Sejak penggunaan gawai semakin meluas, ia mengaku semakin jarang melihat anak-anak bermain permainan tradisional. Padahal, aktivitas bermain bersama dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk bersosialisasi dan membangun kebersamaan.

“Sejak ada gawai, jarang sekali melihat anak-anak bermain permainan tradisional. Padahal, kolecer ini sangat seru. Sekarang permainan tradisional mulai terlupakan, dan anak-anak juga semakin jarang terlihat bersosialisasi karena pengaruh gawai,” ungkapnya.

Bagi Iwan, mengenalkan kembali kolecer kepada generasi muda menjadi salah satu cara untuk menjaga agar permainan tersebut tidak hilang ditelan perubahan zaman. Pengenalan bisa dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, maupun kegiatan masyarakat dengan mengajak anak-anak mengenal cara membuat dan memainkan kolecer.

0 Komentar